Selasa, 23 Agustus 2011

LANJUTAN BAB 2 PKP


Masih menurut Gagne (dalam Karso : 2007: 2.13-14). Dalam belajar matematika ada dua obyek,yakni obyek langsung dan  tidak langsung. Obyek langsung meliputi fakta,operasi, konsep, dan prinsip, sedangkan obyek tak langsung mencakup kemampuan menyelidiki, memecahkan masalah, disiplin diri, bersikap positif, dan tahu bagaimana semestinya belajar.
1.      fakta .
-       1+1 =2
-       Dua durian ditambah tiga durian jadi lima durian
-       Ternyata uangnya hanya Rp 1000,00

2.      Konsep.
-       Bagaimana jika satu buku ditambah dengan dua buah buku ?
-       Apa yang akan saya beli dengan uang seribu rupiah ini?

3.      Prinsip
-       Pokonya satu ditambah satu sama dengan dua.
-       Uang yang saya miliki hanya Rp 10.000,00

Belajar selain membangun kesiapan mental anak dan bagaimana mengetahui tahapan daya serap  anak dalam mempelajari matematika , benda-benda yang berada disekitar anak menjadi jauh lebih menarik jika penguasaan materi dan bagaimana cara menyampaian guru kepada anak. Selanjutnya kebiasaan-kebiasaan serta disiplin anak menjadi acuan seseorang mampu mengerjakan tugas dari matematika yang dipelajari dengan cara berlatih dengan mengaitkan kepada pengalaman siswa. Proses pembelajaran perlu diarahkan guru/ tenaga pendidik, artinya guru dan siswa sama-sama aktif . Mikarsa Hera Lestari ( 2009 : 6.23 ).

Dengan demikian, dalam belajar ada beberapa hal yang harus dipersiapkan.  Persiapan ini terkait dengan siswa dan guru daalam pembelajaran ,diantaranya:
1.             Kesiapan  mental anak atau kondisi anak sebagai subyek pembelajar
2.             Kesiapan guru dalam penggunaan alat peraga kongkret  sebagai bentuk penguatan konsep. Meliputi media yang digunakan.
3.             Kesiapan guru dalam menyampaikan pembelajaran/ kurikulum dan perangkatnya
4.             Kesiapan kondisi lingkungan belajar/ sarana dan pra sarana.

A.           Pengertian Matematika
Dienes (http://indramunawar.blogspot.com/2008/02/pembelajaran-pakem tingkatkan – kualitas.html).mengatakan bahwa matematika adalah ilmu seni kreatif”. Oleh karena itu, matematika harus dipelajari dan diajarkan sebagai ilmu seni. (Ruseffendi, 1988:160). Kitcher lebih memfokuskan perhatiannya kepada komponen dalam kegiatan matematika. (Jackson, 1992:753). Dia mengklaim bahwa matematika terdiri atas komponen-komponen: 1) bahasa (language) yang dijalankan oleh para matematikawan, 2) pernyataan (statements) yang digunakan oleh para matematikawan, 3) pertanyaan (questions) penting yang hingga saat ini belum terpecahkan, 4) alasan (reasonings) yang digunakan untuk menjelaskan pernyataan, dan 5) ide matematika itu sendiri. Bahkan secara lebih luas matematika dipandang sebagai the science of pattern.
Sejalan dengan kedua pandangan di atas, Sujono (1988:5) mengemukakan beberapa pengertian matematika. Di antaranya, matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu, matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah yang berhubungan dengan bilangan. Bahkan dia mengartikan matematika sebagai ilmu bantu dalam menginterpretasikan berbagai ide dan kesimpulan.
Dari dua pendapat di atas, penulis beranggapan bahwa dalam mempelajari matematika mestinya menggunakan seninya matematika itu sendiri, dan menganggap penting pelajaran tersebut karena berkaitan dengan masalah kehidupan manusia. Matematika beranjak dari dasar pemikiran manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Hasil pemikiran-pemikiran apa pun yang dilakukan manusia baik nyata (kongkrit) mau pun abstrak dapat dikatakan matematis / eksak atau matematika.

B.            Pembelajaran  Matematika

Belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku akibat dari adanya interaksi individu dengan lingkungan. Artinya setiap perubahan yang terjadi ada yang merencanakan dan ada yang dengan sendirinya karena proses kematangan individu.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata pembelajaran adalah kata benda yang diartikan sebagai “proses, cara, menjadikan orang atau mahluk hidup belajar” (Depdikbud). Kata ini berasal dari kata kerja belajar yang berarti “ berusaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman”(Depdikbud).

Menurut Gagne dan Briggs dalam (Aisyah) melukiskan pembelajaran sebagai “upaya orang yang tujuannya adalah membantu orang belajar” (Aisyah, dkk, 2007) secara lebih terinci Gagne mendefinisikan pembelajaran sebagai “ seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya beberapa proses belajar yang sifatnya internal (Gredler,1991).dalam (

Pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari. Gatot Muhsetyo,dkk(1:26). Ketercapain kompetensi dapat dilakukan strategi ,yang sesuai dengan(1) topik yang dibicarakan, (2) tingkat perkembangan intelektual anak, (3) prinsip teori belajar, (4) keterliban aktif peserta didik, ( 5) terkai dengan kehidupan peserta didik , dan ( 6) pengembangan dan pemahaman penalaran matematis

Hasil belajar yang direncanakan guru dalam mengajar bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Hubungan interaksi sosial yang berlangsung untuk mengantarkan siswa mencapai tujuan yang direncanakan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi interaksi belajar mengajar yaitu;
1.      Faktor guru
2.      Faktor siswa
3.      Faktor kurikulum,dan
4.      Faktor lingkungan

Factor guru memegang peran dan kendali utama dalam mencapai tujuan belajar. Salah satu syarat yang harus dimiliki guru adalah keterampilan memanfaatkan metode dan media pembelajaran,dalam memanfaatkan media tersebut juga harus memperhatikan karateristik siswa. sedangkan factor kurikulum berbasis kompetensi yang digunakan sangat jelas tersajikan ,baik aspek kompetensi dan indikator pencapaian sebagai alat ukur digunakan variasi berbagai tehnik dan alat penilaian. Faktor lingkungan belajar mempengaruhi interaksi yang terjadi dalam belajar, sehingga lingkungan yang kondusif sangat dibutuhkan dalam kegiatan belajar dan mengajar.

Suatu pengertian yang hampir sama dikemukakan oleh Corey bahwa pembelajaran adalah “Suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu. Pembelajaran merupakan sub-set khusus pendidikan. (Miarso dkk, 1977).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar