Selasa, 23 Agustus 2011

BAB 2 PKP


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.           Penelitian Tindakan Kelas
Mengajar adalah bagian yang tak lepas dari kegiatan guru, biasanya dalam mengajar di kelas tentu ada kendala-kendala yang dihadapi guru maupun siswa. Kerap kali  kegagalan terjadi dalam pelaksaan pembelajaran. Kegagalan tersebut terkadang tidak diteliti oleh guru, karena kesibukan atau banyaknya administrasi yang harus dikerjakan guru, atau guru tidak terbiasa melakukan penelitian tindakan kelas.

Penelitian tindakan kelas dilakukan di dalam kelas , sehingga fokus penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran berupa prilaku guru dan siswa dalam melakukan interaksi pembelajaran. Kegiatan penelitian yang dilakukan guru di dalam kelas, selain meningkatkan profesionalisme guru dalam mengajar, juga meningkatkan kompetensi serta prestasi guru dan siswa.  Mills (dalam Wardhani :2000:1-4) ” Penelitian tindakan kelas sebagai sistematik inquiry yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, atau konselor sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai praktik yang dilakukannnya.”

Penelitian tindakan kelas merupakan suatu penelitian  yang dilakukan guru dalam memperbaiaki pembelajaran, apabila kita lihat dari pengertian penelitian tindakan kelas, bahwa penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Action  Risearch yaitu suatu Action Risearch yang dilakukan di dalam kelas, sehingga diartikan sebagai penelitian tindakan. Dari pengertian Action Risearch maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.             Penelitian tindakan adalah satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri.
2.             Penelitian tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa atau kepala sekolah.
3.             Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial , termasuk situasi pendidikan.
4.             Tujuan penelitian tindakan adalah memperbaiki: dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap praktik tersebut, serta situasi atau lembaga praktik tersebut dilaksanakan.(I.G.A.K. Wardani, 2007: 1.4 ).

Adapun langkah-langkah penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:
1.             Mengidentifikasi masalah.
2.             Menganalisis dan merumuskan masalah.
3.             Merencanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
4.             Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran. Perbaikan dilakukan secara bertahap terus menerus , selama kegiatan penelitian dilakukan.Oleh karena itu dalam PTK dikenal adanya siklus pelaksanaan berupa pola: perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi, revisi atau perencanaan ulang. Dengan demikian apabila guru mengalami kegagalan pada salah satu kompetensi dasar tidak perlu terulang lagi dalam kompetensi selanjutnya. Selain itu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan tolak ukur bagi seorang guru dalam meningkatkan kinerja guru tersebut, walaupun Penelitian Tindakan Kelas (PTK) itu penting, akan tetapi  tidak boleh guru melakukan penelitian terus menerus, sehingga tugas pokoknya sebagai guru terabaikan.

Penelitian tindakan kelas atau PTK perlu dilakukan oleh guru untuk memperbaiki tingkat pembelajaran. Penelitaian tidak mengganggu kinerja guru dalam melaksanakan tugas pokonya. Kegiatan penelitian yang dilakukan secara baik akan meningkatkan kompetensi profesionalisme guru dalam melakukan inovasi di dunia pendidikan.
B.            Karakteristik siswa SD

Salah satu karakteristik umum dari siswa SD adalah usia, dapat dikatagorikan ke dalam  usia pra sekolah sampai dengan usia sekolah dasar ( 4 – 11 tahun ) ditandai dengan munculnya masa peka dan keterampilan bersosialisasi. Selain itu sebagian dari anak usia SD masih berpikir pada tahapan pra konkret menurut Peaget. Maka penggunaan alat peraga sebagai media matematika dan materi-materi yang sesuai untuk anak-anak SD, dan bagaimana cara menyampaikannya?

Jean peaget dalam Mikarsa Hera Lestari (2009:6.8-6.10) membagi empat tahapan berpikir anak dalam teori belajar yang disebut Teori Perkembangan Mental Anak yakni;
1.             Tahap  sensori motorik ( 0-2 tahun ). Perilaku  kognitif yang tampak antara lain :
a.             Menyadari dirinya berbeda dengan benda-benda sekitarnya.
b.             Sensitive terhadap rangsangan suara dan bahaya.
c.             Mencoba bertahan pada pengalaman yang menarik.
d.            Mendefinisikan obyek/ benda dengan manifulasinya
e.             Mulai memahami ketepatan makna suatu obyek

2.             Tahap   operasional awal / praoperasi ( 2-7 tahun ). Perilaku  kognitif yang tampak antara lain :
a.             Self –contered
b.             Dapat mengkalsifikasikan obyek
c.             Dapat melakukan koleksi
d.            Dapat menyusun benda

3.             Tahap operasional / operasi konkret ( 7 -11 tahun ).pada tahap ini kemampuan anak meliputi;
a.             Mengklasifikasikan angka atau bilangan.
b.             Mengkonservasi pengetahuan tertentu.
c.             Proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika

Berbeda dengan Jean Peaget, menurut Bruner dalam Gatot Muhsetyo,dkk (1:12) proses belajar terbagi menjadi 3 tahapan,yaitu:
1.             Tahap Enaktif atau Tahap Kegiatan
Pada tahapan ini benda nyata memiliki peran dominan. Jean peaget menyebutnya tahap operasional konkret. Sebagai ilustrasi “ Ada berapa buah buku di tangan tiruan.
Jumlah penguin ada… dan seterusnya
 
                
                            
                              


Jumlah bola di atas ….

2.             Tahap Simbolik 
Tahap terakhir merupakan wujud dari pembelajaran matematika sebagai bahasa simbul yang padat arti dan abstrak. Angka-angka berupa bilangan serta rumus sederhana dalam matematika tanpa menggunakan bantuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar