Jumat, 25 November 2011

SAYANG UNTUK DIBUANG


Oleh : Soleman guru di Serpong

Media sekolah –Pendidikan mempunyai peran penting di setiap aspek kehidupan,karena pendidikaan terbukti ampuh mempengaruhi dan sangat nyata memiliki kontribusi yang tak sedikit pada masa awal pergerakan nasional .Berkat perjuangan para pendahulu bangsa ini pula kita membangun negara. Peran pendidikan dalam rangka membangun aspek kehidupan seluruh rakyat indonesia seperti yang tertuang dalam amanat pembukaan UUD ’45 yang tertera jelas penjabarannya dalam dalam kurikulum yang selalu diperbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan zaman .

Kemajuan suatu bangsa dapat pula dilihat dari nilai peradaban manusia,sejauh mana peran dunia pendidikan yang diamanatkan dan bukan hanya jadi jorgan tanpa makna dan tak berdaya guna. Patut kita semua berbangga hati ,ketika menyaksikan duta –duta pendidikan dari negeri ini mempertaruhkan harga diri bangsa . Tapi alangkah miris dan miris ketika dunia ini terhiasi oleh oknum –oknum yang tak sepatutnya berada dalam ranah pendidikan.Sekali lagi arti pendidikan dipertaruhkan oleh para pelakunya sendiri.

Berangkat dari semua itu, pendidikan cinta tanah air sebagai implementasi dari nilai-nilai juang para pahlawan yang diamanatkan kepada seluruh pendidik di negeri ini ,apakah sudah benar-benar tertera dalam setiap sanubari pelaku pendidikan . Hal ini dapat terlihat jelas dari merosotnya kompetensi yang dimiliki para guru*,rendahnya nilai USBN ,tawuran antar pelajar,serta pelanggaran HAM yang kerap terjadi ,bahkan korupsi penggunaan anggaran perencanaan pembangunan sekolah dan masih begitu banyak yang mesti kita kaji dan intropeksi diri sebagai cerminan buat kita semua sebagai pelaku pendidikan.

Pendidikan bela negara yang bernaung dalam wadah kepramukaan baik dari tingkat dasar sampai menengah mempunyai tujuan sebagai pembentukkan karakter para generasi bangsa,sebagai bagian dari cinta tanah air dan bela negara,ulet serta tangguh dan dapat bertanggungjawab,dengan tidak menghilangkan kreativitas para pesertanya. Gerakan pramuka dengan sitem ‘Among ‘ yang sangat dipahami oleh pelaku pendidikan jauh sebelumnya dikenalkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai Bapaknya para pendidik di Indonesia memang tak lagi kita ragukan dan sangsikan sejak berdirinya Taman Siswa pada awal pergerakan nasional.

Kepala Negara begitu semangatnya ,didukung oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga sangat nyata mendukung kegiatan ini,sebagai perwujudan cinta tanah air dan bela negara. Dewan Pembina Kwarcab yang terdiri dari beberapa Kepala  Dinas di Tangerang Selatan pun memberikan respon yang positif ,namun demikian hal tersebut di atas tidak diikuti pada struktur di tingkat bawah yang pada akhirnya kegiatan kepramukaan pada tingkat sekolah dasar, menengah dan atas sangat minim peminatnya ,bahkan terkadang sangat memprihatinkan. Melihat dan merasakan itu ,lalu kita sebagai pelaku pendidikan memposisikan diri pada kalimat yang mana pernah ditularkan disetiap insan pendidikan. “Ing ngarsa sung tulada ,Ing madya mangun karsa,Tut wuri handayani”Rasanya kita takkan setuju jika dikatakan telah terjadi pembangkangan terhadap cita-cita luhur para pahlawan yang dengan rela mengorbankan segenap jiwa dan raganya.




(*Drs .H.Kuswanda ,M.Pd .pada pertemuan pembinaan guru gugus 2 dan 5)

 

 

 

 


NILA SETITIK RUSAK SUSU SEBELANGA

Media sekolah- Guru .Digugu dan ditiru .Kata tersebut tak pernah hilang dari ingatan . Bahkan kata –kata “Guru kencing berdiri,murid kencing berlari “pun pernah didengar telinga.Guru penuh dengan tagihan BPD ,lebih naas lagi guru yang gantung diri sebab tak mampu lagi membayar tagihan kredit. Dan nyanyian Umar Bakri dari  Iwan Fals yang mengiris sanubari ,atau Pahlawan tanpa tanda jasa yang dinyanyikan anak –anak SD seluruh Indonesia.Elegi dan ironi lama membuat pembelajaran berarti dan tak lagi terlena nyanyian masa suram dunia pendidikan.

Perhatian pemerintah sangat serius dengan hal ini,sertifikasi guru dan dosen telah melahirkan undang-undangnya yang dengan nyata diakui ,tetapi juga dihargai baik dari sisi peningkatan kesejahteraan ,kompetensi dan profesionalisme .Sejauh ini anggaran untuk pembiayaan peningkatan kesejahteraan yang termaktub untuk sertifikasi guru memang perlu adanya evaluasi sebagi pengawasan kinerja yang lebih baik. Kemerosotan mutu siswa tersebut tidak terlepas dari kinerja guru .Lalu kemana dampak dari sertifikasi dan pendanaannya yang begitu banyak memakan biaya APBD. Hal tersebut dilontarkan oleh Pak H.Kuswanda ,M.Pd  pada pertemuan Pembinaan Gugus 2 dan 5 di SDK Sole Deo  BSD,yang didengarkan hampir 200 orang guru disaksikan oleh UPT dan para pengawas di Kecamatan Serpong.

Evaluasi memang sangat berperan dalam ranah apa pun , tak terlepas dari apa yang kita rencanakan dan kerjakan,sebagai bagian dari peningkatan mutu yang lebih baik ke depannya.Peningkatan kesejahteraan bagi guru sudah sepatutnya diimbangi dengan kontribusi dan semangat kerja dan pengabdian sehingga apa yang menjadi icon Kota Tangerang Selatan sebagai Kota Pendidikan yang religius dapat terlaksana ,dan bukan hanya jorgan-jorgan serta seremonial belaka.

 

Menindaklanjuti hal tersebut di atas perlu keseriusan dari unsur –unsur terdekat guru ,baik sebagi kontrol langsung dari peranan Kepala Sekolah serta para pengawas di lapangan .Peran UPT pun tak kalah pentingnya sebagai bentuk kerjasama dalam perbaikan mutu yang menjadi harapan dan cita-cita Tangerang Selatan.Setinggi apa pun cita-cita dan harapan tak mungkin terlaksana tanpa pengawasan yang kontinu. Sehingga sertifikasi tidak menjadi hal yang mubajir dan menghasilkan rendahnya mutu pendidikan di Tangerang Selatan.Dan tidak menjadi Nila setitik rusak susu sebelanga.Pada akhirnya semoga cita –cita baik ini mendapat rahmat dari-Nya. Amiin.



















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar