Selasa, 08 November 2011

MAIN DRAMA2AN

MALIN KUNDANG ANAK DURHAKA”
Frame .1
Prolog
Alhamdulillah ,... segala puji bagi Alah Pencipta Alam. Pada kesempatan ini kami dari kelas V mempersembahkan sebuah ceita yang sudah sangat melegenda di masyarakat Indonesia. Dengan segala kerendahan hati dan keterbatasan ini, kami berusaha menampilkannya cerita tersebut  ,mohon maaf sebelumnya jika  di sani sini banyak sekali kekurangannya pada para pemain dalam cerita. Cerita ini di mainkan oleh
1.    .............................sebagai Malin Kundang
2.    .............................sebagai Ibu Malin
3.    .............................sebagai Isteri Malin / anak Saudagar kaya
4.    .............................sebagai Perantau 1
5.    .............................sebagai ABK 1
6.    .............................sebagai ABK 2
7.    .............................sebagai Tukang Ikan
8.    .............................sebagai Teman Malin
9.    .............................sebagai Pengawal 1
10.  .............................sebagai Pengawal 2
11.  .............................sebagai Tetangga Malin
12.  Prolog oleh................................................
Selamat menyaksikan ..!!!!!

Musik mulai ............................................................
prolog
Alkisah , di dalam cerita hiduplah seorang Mak tua dengan anaknya. Ibu itu sangat menyayangi dan memanjakan anaknya itu, walau pun hidup mereka dalam kondisi yang sangat miskin. Kehidupan yang sangat susah membuat sang anak ingin pergi merantau untuk merubah nasibnya agar tak melarat lagi. Setiap hari Malin selalu mengucapkan keinginannya itu pada Maknya.
Adegan 1
(Malin kundang masuk sambil membawa kayu bakar yang biasa ia kerjakan setiap hari. Tapi hari ini ia membawa pulang begitu banyak kayu bakar. “ Aku harus membawa semua kayu-kayu ini buat persiapan Mak nanti” . Pikirnya dalam hati.( malin masuk sambil membawa kayu bakar).
Mak terkaget-kaget melihat begitu banyak kayu yang dibawa Malin.
EMAK             :“ Buat apa kayu sebanyak ini,Malin ?”
MALIN             : “ Buat persiapan Mak, agar tidak repot-repot lagi nanti’
EMAK             : Memangnya kamu mau kemana, Malin ? Sedikit kayu pun Emak rasa cukup buat kebutuhan kita, lagi pula tidak ada yang dimasak, Nak’( mak menjelaskan heran )
Malin               : “Malin mau merantau, Mak! Malin ingin hidup kita tidak susah lagi nanti’
Emak              : Emak khawatir,Nak.... nanti.....( mak tidak meneruskan kata-katanya )
MALIN             : Emak tidak usah khawatir, Malin bisa jaga diri , Mak !
EMAK             : Tapi, Malin...( Emak tidak meneruskan kata-katanya. Matanya mulai berkaca-kaca. Kesedihannya nampak jelas )
MALIN             : Sudahlah ,Mak...., Malin akan pulang nanti,( Malin sambil merapikan barang sekedarnya dan bekal perjalanannya)
Dua orang teman Malin datang menemui Malin. Mereka berdua mengajak Malin untuk segera berangkat.
TEMAN 1        : “ Malin....., jadi ,tidak kau ikut kami?’
TEMAN 2        : “ Bagaimana? Apakah kamu sudah siap?
MALIN             : “ Ya,...Tunggu sebentar...,
                        “ Mak ,...Malin berangkat ,mak,....Do’akan ,Malin mak semoga berhasil.
EMAK             : Berangkatlah,Nak !, Hati-hati, diperantauan,
MALIN             : Malin pamit ,mak... ( setelah itu mencium tangan Emak , Malin berangkat diantarkan Emak )
Dengan kesedihan mendalam Emak melepas kepergian Malin Kundang untuk merantau ke kota. Air mata Emak tak tertahankan lagi. Kini ia hidup sebatangkara.
Emak              : “Semoga kau berhasil,Nak..., Emak mendo’akan mu ( Malin meninggalkan Emak sendiri )
Properti
Latar pada pangung dikondisikan seperti bentuk keadaan sebuah dermaga dengan ditambah beberapa pemain yang hilir mudik di atas panggung berperan sebagai pedagang, pesiar,dan para saudagar kaya. Begitulah keadaan dermaga tiap harinya.

Malin kecil sangat rajin dan di sayang oleh Ibunya
-          Malin dan Ibunya tiap hari ke dermaga tersebut untuk mencari pekerjaan ,jika ada pedagang yang membutuhkannya sebagai kebutuhan sehari-hari anak beranak itu.
-          Malin seringkali menanyakan kepada Ibunya tentang keberadaab Ayahnya jika ia ke dermaga itu , yang selalu dijawab oleh ibunya bahwa ayahnya pergi merantau.
-          Suatu hari Malin melihat kedatangan sebuah kapal besar yang berlabuh di dermaga dengan beberapa orang anak buah kapal beserta seorang saudagar kaya. Melihat itu timbulah keinginan Malin untuk berlayar dan merantau. Keinginan Malin sampaikan kepada Ibunya, walau Ibunya sendiri sangat menyayanginya,tapi Malin terus saja memaksa Ibunya.

Dengan berat hati dan perasaan yang tak dapat dilukiskan akan nasib anaknya itu , ibunda melepaskan kepergiannya Malin untuk merantau.
-          Temannya Malin menanyakan kepada Mak  tentang maksud Malin. Mak dan Teman Malin melepaskan kepergian Malin untuk merantau.

Frame .2
Prolog.
Akhirnya berangkatlah Malin Kundang merantau. Senang bukan kepalang. Siang itu, ia menuju dermaga dengan dilepas oleh Maknya. Pedagang sudah menunggu kedatangan Malin. Para ABK mengantarkan Malin kepada Pedagang.
-                 Maka berangkatlah Malin dengar saudagar itu. ( dalam perjalanan kapal yang ditumpangi Malin terdampar dan terhempaskan gelombang hingga kapal tersebut karam.
-                 Dalam ceritanya  hanya ia seorang yang selamat dari bencana tersebut)

Malin berangkat merantau ke negeri yang jauh

-          Singkat cerita Malin diselamatkan oleh saudagar kaya raya yang kemudian mengangkat Malin menjadi menantunya. Hingga pada akhirnya usaha saudagar kaya raya tersebut dilanjutkan oleh Malin dan seluruh hartanya di serahkan kepada Malin.
-          Suatu hari isteri Malin ingin pergi berlayar dan berjalan-jalan, walau keinginan itu membuat Malin khawatir,tapi pada akhirnya Malin mengizinkannya.
ADEGAN 2
prolog
Dalam perjalanan ke kota dengan dua orang temannya itu ,terjadilah musibah itu. Bekal yang yang dibawa Malin semua ludes dirampas copet. Malin pun tak sadarkan diri ,karena dipukuli para pencoleng. Dua Orang temannya entak kemana.Ketika sadar tak didapatinya teman-temannya. Lapar tak tertahan lagi.
MALIN             : “ Di mana aku?”
Dalam kebingungan dan ketakberdayaannya Malin terus mencari sesuatu. Rasa lapar tak terkira. Di dekatinya tempat itu. Tiba-tiba..
Pengawal 1     : “ Siapa kau !......
Pengawal 2     : “ Sedang apa kau ,di sis, mau mencuri , ya?
MALIN             : Hamba ,....Malin , tuanku ...
Pengawal 1     : Haah! , Maliiing!,
MALIN             : Malin,..tuan...
Tiba-tiba Sudagar kaya datang, dan menanyakan apa yang sedang terjadi.
SAUDAGAR   : Ada apa pengawal ? Siapa yang kau bawa ?
Pengawal 1     : Namanya,Malin tuan..
SAUDAGAR   : Kenapa kau berada di sini, dan apa yang kau kerjakan anak muda?
(Malin menjelaskan seluruhnya tentang kejadian yang dialaminya hingga ia terlunta-lunta. Penjelasan yang jujur dari Malin membuat Saudagar kaya tersebut pada akhirnya  menerima Malin untuk bekerja padanya. )
SAUDAGAR   : Ya....., sudahlah anak muda, sekarang maukah kau bekerja di sini?
MALIN             : Mauu...tuan, terima kasih, tuan..( demikianlah keadaan itu, hati Malin kundang sangat senang )
Begitulah, akhirnya kehidupan Malin kundang mulai berubah karena ia rajin mengerjakan pekerjaannya. Malin Kundang pada akhirnya meneruskan usaha Saudagar kaya tersebut. Saudagar kaya itu menyerahkan kekayaannya serta menikahkan Malin dengan puteri saudagar kaya itu.
Text Box:    \
( kapal yang membawa Malin remaja kandas dan terdampar.)





-          Frame ..3
Adegan 3
prolog
hari telah berganti hari,minggu telah menjadi bulan, sepuluh tahun sudah berlalu. Kehidupan mewah malin sungguh jauh berbeda sekarang dengan Emaknya di kampung halamannya. Emak tua itu ,selalu menanyakan tentang keberadaan Malin berada. Kerinduan akan anak semata wayangnya tak terkirakan.betulah kehidupan Emak Malin.
Emak         : “ Permisi tuan, apakah tuan , mengenal Malin?
Pedagang  : “ohh.., tidak, bu.
Begitulah ,emak selalu menanyakan keberadaan Malin kepada setiap orang yang datang.
Pedagang  : “ Kasihan ,mak malin itu....”
Pedagang  : “Ya!..., sudah ditinggal suaminya,. Anaknya pun tak ada berita”
Begitulah keadaan Emak Malin sangat menderita. Tiap hari selalu saja Malin yang ditanyakannya pada setiap orang.
Emak         : “ Malin, dimana kamu ,Nak!
                  Emak ,,,,ingin bertemu kamu, Malin !
Pedagang  ; “Sudahlah ,Mak, Nanti juga malin pulang”


( Pada bagia akhir ini ( klimaks) pemain diusahakan dapat menggugah penonton. Pesan moral harus dapat disampaikan walau tidak terlalu seutuhnya. Iringan musik pada bagian akhir ini mmemainkan peran penting ditambah tambahan efek suara situasi badai )
-          Hari menjadi minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Begitulah penantian yang panjang itu tak pernah terobati oleh Ibunya Malin. Kerinduan terhadap anak satu-satunya itu membuat ia sering sakit-sakitan ditambah kesebatangkaraan dan kesendiriannya. Harapnya Cuma satu ingin bertemu anak kesayangannya.
-          Serombongan saudagar kaya dengan kapal besar merapat di dermaga. Turunlah Malin beserta isteri dan para ABK di tempat di mana Ibunya berada. Dengan sombong dan pongahnya Malin berjalan-jalan mengitari sudut dermaga bersama isterinya.










 







 































-          Banyak orang sekitar membicarakan kedatangan Malin dari perantauan. Mendengar berita itu segera ibunya menghampiri Malin yang sedang bersenang-senang dengan isteri dan para pengawalnya
-          Tapi alangkah luka dan nestapanya hati sang ibunda ,karena Malin beserta isterinya tidak mengakuinya sebagai ibu. Perih dan nestapa hatinya ibu,ketika Malin memerintahkan para pengawalnya untuk mengusir Ibunya sendiri.
-         


Rounded Rectangular Callout: Benarkah pengemis miskin ini ibu Kak Malin?  Malang benar Ibu ini , Suami ku tak punya Mak seperti anda rasanya !
 

-         



Isteri Malin juga sama sombong dan angkuhnya .

Adegan 4

Malin Kundang dan isterinya turun dari kapal yang membawanya. Semua orang terheran-heran dengan keberadaan Malin Kundang yang begitu serba mewah.
Emak menghampiri Malin yang sedang bersama isterinya.
Emak        :” Malin, ....anakku !
Malin        : “Siapakah kau, hai wanita tua? Mengapa kau berani mengaku sebagai ibuku?”

Dengan kasarnya malin membentak –bentak wanita tua renta itu

Emak  :“Oh, Malin Kundang anakku, mengapa kau berkata begitu,Nak!.., lupakah kau kepadaku? Aku ini ibumu,Nak. Ibu yang melahirkan dan merawatmu sejak kecil,”

Wanita  tua itu mengiba.Yang tak lain adalah ibunya Malin.

Malin  :“Ibuku?” jawab Malin. “Tidak, aku tidak punya ibu seperti kamu!”

Emak :“Malin Kundang, mengapa kau tidak mengakui bahwa aku ini ibumu. Lupakah kau akan janjimu saat pergi merantau? Mengapa sekarang, setelah berhasil, kau tidak mengakui bahwa aku  ini ibumu, Nak!,...Apakah karena kamu malu dengan istrimu dan pegawai-pegawaimu?”

Mendengar kata-kata itu, Malin Kundang semakin marah. Lalu diusirnya wanita tua itu dengan
kasar.

Malin  :“Dasar kau wanita tua! Aku bukan anakmu. Pergi!......, pergilah kau dari sini, aku tidak mengenalmu!” Huuhh.....( Wanita tua itu didorongnya hingga terjatuh di tanah.)

Lalu Malin Kundang dan istrinya kembali ke kapal.

Mendapat perlakuan kasar Malin, wanita tua itu merasa sakit hati. Kemudian ia berkata,

Emak  :“Malin Kundang, engkau anak durhaka, kau tidak mau mengakui ibumu sendiri, ibu yang   merawatmu sejak kecil...........Ya Tuhan, kutuklah Malin, sebab ia anak durhaka.”

Beberapa saat setelah ibu itu mengucapkan doanya, terdengarlah bunyi guntur gemelegar di angkasa bersama mengumpulnya gumpulan awan hitam. Maka, langit pun menjadi gelap kemudian turunlah hujan lebat. Laut pun ditimpa badai. Sebuah petir besar menyambar tubuh Malin sehingga mengubah dirinya menjadi batu. Kemudian, kapal layar Malin tenggelam bersama seluruh isi dan awak kapal.

-          Malin meninggalkan keberadaan ibunya dan segera menaiki kapal untuk berlayar kembali. Hati yang terluka karena penolakan Malin membuat sang bunda tua renta itu menangis dan berdo’a hingga tanpa disadarinya ia mengutuk anak yang dulu di sangat disayangi dan dirindukannya.
-          “ Kukutuk kau Malin menjadi batu!......”dengan tangis air mata mengalir dan rasa sesak di dalam hati sang bunda bersimpuh dan meminta pada yang Kuasa.
-          Seketika itu juga langit berubah menjadi hitam, kilat menyambar-nyambar, dan ombak begitu derasnya. Keanehan yang menyadarkan Malin akan Ibunya,namun semuanya sudah terlambat kuasa Tuhan sudah diturunkan dan ajab telah ditimpahkan untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Akhirnya Malin Kundang Si Anak Durhaka telah berubah menjadi ......baso...

inilah bukti legenda Malin Kundang itu.
Demikianlah akhir cerita ini , semoga kita dapat mengambil hikmahnya dan manfaatnya. Sesungguhnya harta dan kekuasaan tak dapat melampui kuasa Tuhan yang Maha Agung. do’a dan nasihat  orang tua harap dapat kita dengarkan agar kita semua tidak seperti Malin Kundang. Akhir kata ,kami semua mohon maaf yang tak terhingga jika dalam pementasan ini terdapat kekurangan dan kehilafan. Terima kasih wabillahi thofik walhidayah wasalamu’alaikum wb. Sampai jumpa tahun depan .













Malin kundang
Petir terus saja menyambar-nyambar tiang laya perahu dengan beberapa orang yang berada di atasnya. Angin yang kencang menerpa dengan ombak yang deras mengguyur bagian dak kapal. Kapal itu terus terombang-ambing kan oleh gelombang laut yang semakin meninggi dan kilat terus saja menggelegar menyambar tiang layar kapal tersebut. Braakk. Tiba-tiba tiang layar kapal patah. Para penumpang kapal tersebut sudah tak sadarkan diri. Tak dapat dilukiskan keadaan di tengah lautan.
Badai pun reda, hanya terdengar riak gelombang laut yang menggoyang-goyangkan kapal yang sudah taak utuh itu. Satu sosok dari mereka tiba-tiba bergerak gerak sambil menatap sekitarnya. Dibangunkannya rekan-rekannya yang lain. Demikianlah armada saudagar yang terdampar di tepi pantai. Burung-burung camar terdengar dengan suaranya yang nyaring mencari ikan yang hendak di santapnya pagi itu.
( demikian situasi di panngung digambarkan dengan ABK yang kebingungan di atas panggung dengan latar kibasan kain berwarna biru dan putih )
Seorang nenek dengan langkah gontai menghampiri salah satu dari penumpang kapal yang terdampar. `Nenek tua itu menanyakan tentang Malim yang sudah bertahun-tahun tak dijumpainya. Anak satu-satunya yang hingga kini tak jelas keberadaannya itu membuat hati Nenek tua semakin nelangsa. Hidupnya yang seorang diri ditambah lagi tubuhnya yang semakin renta. ( Nenek terus saja menanyakan kepada orang-orang yang ditemuinya di dermaga itu )
  









Malin Kundang
Di sebuah desa di daerah Minangkabau tinggallah seorang janda bersama anak lelakinya, bernama Malin Kundang. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Ibunya amat menyayanginya.
Mereka berdua hidup dalam kemiskinan. Di rumahnya, tidak ada satu pun benda berharga. Malin
Kundanglah satu-satunya yang berharga bagi janda miskin itu.
Setiap hari, ibu Malin Kundang mencari kayu bakar di hutan. Dari hasil penjualan kayu bakar itu,
Malin Kundang dan ibunya hidup.
Rupanya, setelah dewasa Malin Kundang merasa bosan dengan keadaan hidupnya yang serba
miskin. Malin Kundang ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan.
Dan pada suatu malam, Malin Kundang mengutarakan maksud hatinya ingin merantau jauh mencari uang. Mendengar hal itu, mula-mula ibunya tidak menyetujui. Namun, Malin memohon supaya ibunya mengijinkannya. Dia berkata, “Ibu, aku pergi justru ingin membahagiakan ibu. Aku akan pulang membawa uang banyak untuk ibu”, desak Malin. Akhirnya, ibu Malin Kundang menyetujuinya.
Keesokan harinya, Malin Kundang pergi meninggalkan ibu dan kampung halamannya. Kepergiannya dilepas ibunya dengan tangisan haru.
Sepeninggal Malin Kundang, ibunya bekerja seperti biasanya. Setiap hari ia pergi ke hutan mencari kayu bakar, kemudian dijual ke pasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sementara itu, Malin Kundang telah bekerja pada seorang saudagar kaya. Ia bekerja dengan rajin
dan tekun. Majikannya amat menyayanginya. Malin selalu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik hingga usaha majikannya itu makin berkembang. Majikannya pun bertambah sayang kepada Malin Kundang.
Majikan Malin Kundang mempunyai seorang putri yang cantik. Oleh ayahnya, putrinya dinikahkan
dengan Malin Kundang. Sebelum majikan itu meninggal dunia, seluruh harta bendanya diwariskan
kepada Malin Kundang dan istrinya. Saudagar itu berpesan agar usahanya terus dikembangkan.
Beberapa waktu setelah ayahnya meninggal, istri Malin mengajak menengok kampung halaman
suaminya. Malin Kundang pun menyetujuinya. Maka, berlayarlah mereka menuju kampung halaman Malin Kundang.
Kepulangan Malin Kundang ke kampung halamannya, didengar juga oleh ibunya. Mendengar kabar itu, bergegaslah janda miskin itu pergi ke pelabuhan untuk menjumpai Malin Kundang, anaknya.
Setiba di pelabuhan, si ibu tersebut melihat seorang lelaki gagah perkasa sedang berdiri di atas kapal yang besar dan megah. Lelaki gagah itu didampingi oleh seorang putri yang cantik jelita. Ia mengenakan pakaian mewah serta perhiasan yang gemerlapan. Walaupun berpenampilan gagah dan berpakaian mewah, ibu itu masih tetap ingat. Lelaki itu adalah Malin Kundang, anaknya.
Tanpa berpikir panjang, ibu langsung menghampiri anaknya. Tetapi, begitu melihat ibunya yang
tua renta dan berpenampilan kotor, Malin tidak mengakui bahwa wanita itu ibunya. Dengan suara keras Malin berkata, “Siapakah kau, hai wanita tua? Mengapa kau berani mengaku sebagai ibuku?”
“Oh, Malin Kundang anakku, mengapa kau berkata begitu, lupakah kau kepadaku? Aku ini ibumu,
Nak. Ibu yang melahirkan dan merawatmu sejak kecil,” kata wanita tua itu mengiba.
“Ibuku?” jawab Malin. “Tidak, aku tidak punya ibu seperti kamu!”
“Malin Kundang, mengapa kau tidak mengakui bahwa aku ini ibumu. Lupakah kau akan janjimu
saat pergi merantau? Mengapa sekarang, setelah berhasil, kau tidak mengakui bahwa aku ini ibumu.
Apakah karena kamu malu dengan istrimu dan pegawai-pegawaimu?”
Mendengar kata-kata itu, Malin Kundang semakin marah. Lalu diusirnya wanita tua itu dengan
kasar.
“Dasar kau wanita tua! Aku bukan anakmu. Pergi, pergilah kau dari sini, aku tidak mengenalmu!”
Wanita tua itu didorongnya hingga terjatuh di tanah. Lalu Malin Kundang dan istrinya kembali ke kapal.
Mendapat perlakuan kasar Malin, wanita tua itu merasa sakit hati. Kemudian ia berkata, “Malin
Kundang, engkau anak durhaka, kau tidak mau mengakui ibumu sendiri, ibu yang merawatmu sejak kecil.
Ya Tuhan, kutuklah Malin, sebab ia anak durhaka.”
Beberapa saat setelah ibu itu mengucapkan doanya, terdengarlah bunyi guntur gemelegar di angkasa
bersama mengumpulnya gumpulan awan hitam. Maka, langit pun menjadi gelap kemudian turunlah hujan
lebat. Laut pun ditimpa badai. Sebuah petir besar menyambar tubuh Malin sehingga mengubah dirinya
menjadi batu. Kemudian, kapal layar Malin tenggelam bersama seluruh isi dan awak kapal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar